PENGERTIAN DASAR BUDDHA DHARMA Bag.4

4 06 2008

1. Pengertian yang benar (samyag-drsti)
Artinya : Suatu pengertian intelektuil tentang Empat Kesunyataan utama atau Kebenaran Mulia, atau tentang kebenaran nyata dari kehidupan secara umum maupun secara sederhana, memiliki pengertian yang benar mengenai Buddha Dharma, juga menembusi arti dari Tiga Sifat Universal (atau Tiga Corak Umum dari alam fenomena, Skt. : Tri-Laksana), dan Hukum Sebab Akibat Yang Saling bergantungan (Hukum Pratitya Samutpada), Sunyata.

Catatan : Pengertian yang benar adalah isyarat dan tanda-tanda yang pertama kali dari karma-karma yang baik.

2. Pikiran yang benar (Samyag-samkalpa)
Artinya : Pengertian lainnya adalah kehendak yang benar yang berarti bahwa mempunyai pikiran atau kehendak untuk membebaskan segala ikatan-ikatan Duhkha (penderitaan). Pikiran atau Kehendak yang demikian haruslah bebas dari segala keserakahan, kebencian, dan keinginan untuk merugikan orang lain dan diri sendiri. Termasuk juga pikiran yang bebas dari hawa nafsu keduniawian, dan juga bebas dari kekejaman, serta pikiran yang terbebas dari keinginan atau kemauan jahat.

3. Berbicara yang benar (Samyag-vak)
Artinya : Pantang untuk berdusta, memfitnah, bercerita yang dapat menyebabkan kemarahan orang lain, kata-kata kasar dan kotor, dan cerita omong kosong dan tidak bertanggung jawab. Termasuk membicarakan atau menjelaskan Buddha Dharma secara benar bukan dengan unsur sengaja memutarbalikkan yang benar menjadi yang salah dan sebaliknya. Disebut berbicara yang benar bila dapat memenuhi persyaratan berikut ini : bicara itu yang benar berdasarkan fakta maupun pengalaman sendiri, bicara itu sungguh-sungguh beralasan, bicara itu mempunyai manfaatnya, berbicara itu tepat pada waktunya dan tempatnya.

4. Perbuatan yang benar (Samyag-karmanta)
Artinya : Tidak melakukan atau menyuruh melakukan pembunuhan, penyiksaan, pencurian, dan perzinahan.

5. Perbuatan yang benar (samyag-ajiva)
Artinya : berarti juga Mata Pencaharian yang benar, berarti menghindari atau menolak mata pencaharian yang salah dan berusaha untuk hidup yang benar.

Catatan : 5 (lima) macam pencaharian yang salah haruslah dihindari, yaitu penipuan, ketidaksetiaan, penujuman, kecurangan, praktek lintah darat (meminjamkan uang dengan bunga yang tinggi).
Seorang siswa Buddha harus pula menghindari 5 (lima) macam perdagangan, yaitu : berdagang alat senjata, berdagang makhluk hidup, berdagang daging (atau segala sesuatu yang berasal dari penganiayaan makhluk-makhluk hidup), berdagang minuman alkohol atau menimbulkan ketagihan seperti narkotika, berdagang racun.

6. Berusaha yang benar (Samyag-vyayama)
Artinya : Usaha untuk menghilangkan kejahatan yang belum muncul, usaha untuk mengatasi kejahatan dan sifat buruk yang telah muncul, usaha untuk mengembangkan kebaikan dan sifat berguna dari pikiran, dan berusaha memelihara sifat-sifat baik yang telah ada.

Catatan : Jadi ada 4 (empat) macam usaha, yaitu : menghindari, usaha untuk mengatasi, usaha mengembangkan, dan usaha untuk memelihara.

7. Perhatian yang benar (Samyag-smrti)
artinya : Tetap dalam perenungan pada keadaan dari pikiran, perasaan, badan, dengan rajin dan dengan sadar dan penuh pengertian serta menolak kerakusan dan kesedihan duniawi. Contoh : Empat perhatian pada perenungan tentang rupa (tubuh), perasaan, kesadaraan, dan Dharma.

Catatan : Samyag-Smrti terdiri dari latihan-latihan Vipasyana (yaitu : Meditasi untuk memperoleh Pandangan Terang tentang kehidupan).

8. Konsentrasi yang benar (samyag-samadhi)
Artinya : Menempatkan pikiran pada suatu perbuatan yang kita ingin lakukan sesuai dengan cara yang benar.

Catatan: Memusatkan pikiran pada suatu obyek yang tunggal yang berarti terpusatnya pikiran, inilah yang disebut konsentrasi.
Didalam arti yang luas, konsentrasi ada hubungannya dengan kesadaraan juga. Di dalam pencerapan rasa ia sangat lemah.

Tambahan Penjelasan :
Perenungan tingkat pertama (Dhyana-I); bila seorang siswa bebas dari perasaan nafsu, bebas dari sesuatu yang tidak baik, ia masuk dalam tingkat ini, tapi masih disertai gelombang pikiran dan renungan, terlahir kebebasan yang mengandung kenikmatan dan kebahagiaan.

Perenungan tingkat kedua (Dhyana-II); bila seorang siswa setelah mengendapkan gelombang pikiran dan renungan, mulailah tercapai ketenangan batin, pikiran mulai memusat, ia atau siswa tersebut masuk dalam tingkat ini.

Perenungan tingkat ketiga (Dhyana-III); bila seorang siswa telah dapat melenyapkan kegiuran, ia berdiam diri dalam keseimbangan dan kesadaraan yang kuat. Ia memasuki tingkat ini.

Perenungan tingkat keempat (Dhyana-IV); bila seorang siswa akhirnya dapat mengatasi kenikmatan, karena lenyapnya kegembiraan dan kesedihan. Ia memasuki tingkat keempat ini (Dhyana-IV), yang penuh keseimbangan dan kesadaraan inilah yang disebut samadhi yang benar.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: